Kamis, 27 Agustus 2015

ASAL USUL TERCIPTANYA DZAT ALLAH SWT

Eggyzsutamy 9 September 2013
Allah itu memang terciptakan, jika Allah tidak terciptakan
maka Allah tidak ada, bukankah Allah sendiri yg telah
mengisyaratkan dalam Al _Quran bahwa segala sesuatu
itu melalui proses. Disini termasuk Allah swt, jika kita kaji
dengan segala logika akaliyah, logika nagliyah serta
logika illahiyah, maka bukankah Allah bersifat Qiyamuhu Binafsi??. Adanya Allah dimulai dari tiadaNya Allah, jika
sesuatu itu ada maka tidak mungkin sesuatu itu
langsang ada, ternyata Allah juga tidak demikian, tetapi
Allah bersifat berdiri sendiri karena diriNya Allah sendiri,
disinilah proses Allah terciptakan dan menciptakan. Jika cikal bakal Dzat Allah swt atau JasadNya dimulai
sifatNya yang dua puluh, disini penulis tidak membahas
tentang Allah, karena sudah jelas bagi kita semua bahwa
Allah itu bukanlah tuhan yang sesungguhNya karena dia
masih nama dan nama itu adalah mahluk dan mahluk itu
benda. Jika kita menyembah Allah maka kita masih menyembah benda. Maka jika ini terjadi sesungguhnya
kita sama persis dengan para penyembah berhala klasik
latta uzza dan manna. Dengan tegas serta kekuatan iman
kita maka kita berikrar dan bersaksi bahwa kita
menyembah DzatNya bukan namaNya. Tetapi untuk
menyembah DzatNya masih diperlukan penyebutan namaNya yang dikenal oleh orang syaiat adalah terkenal
dg nama Dzikir secara umum. Sedang Dzikir secara khusus
adalah proses penyembahan DzatNya. Dengan memahami sifat Allah swt yang dua puluh, maka
dapat kita imani bahwa Allah pada titik kesimpulannya
adalah punya Dzat, Dzat disinilah yang wajib kita sembah.
Jika kita bicara Dzat maka sesunggguhnya Allah telah
mengajarkan dengan sifat ilmuNya dengan jelas, bahwa
adakah di dunia in ada Dzat yang tidak tercipta? Sungguh jawabannya adalah mustahil. Begitu juga
dengan Dzat Allah yang bersifat wahdaniyah dalam
segala arti ke esaanNya, ketunggalanNya yang telah
dengan tegas difirmankanNya dalam Qs. Ikhlas bahwa
Allah itu Esa, jika EsaNya Allah itu satu, maka Allah itu
akan bermakna benda. Jika ini terjadi dengan sesungguhnya hal inilah yang menimbulkan habit habit
pada jaman jahiliyah yaitu kebiasaan menyembah tuhan
yang telah dibendakan. Iman kita telah sepakat bahwa hakekatNya Allah itu
pada DzatNya dan Allah bersifat wujud artinya Allah itu
ada. AdaNya Allah pasti bukan dari bin salabin ada
kedabra langsung ada. Tidak demikian adaNya. AdaNya
Allah itu telah nyata karena tercipta, bukti Allah tercipta
karena Allah punya Dzat. Secara teori kimia, semua dzat apapun akan memiliki molekul molekul hingga unsur
terkecil yang kita sebut saat ini atom. Pada prosesi atom
dalam partikel partikelnya membentuk sebuah dzat
dalam perubahan dzat itu sendiri telah menghasilkan
cahaya. Hingga pada akhirnya cahaya cahaya inilah
secara prose salami mampu membentuk Dzat. Dari logika kecil tersebut kita dapat memahami bahwa
DzatNya Allah swt telah mampu menciptakan cahaya,
dimana cahaya ini adalah sebagai unsur terkuat dalam
proses pembentukan dzat. Cahaya inilah yang nantinya
disebut sebagai NUR MUHAMMAD. “Bagaimana mungkin
kamu melakukah kesalahan?Karen a kami berada dalam cahaya Ahmad! Cahaya Ahmad adalah cahaya
Muhammad saw telah ada dan telah diciptakan oleh Allah
dari DzatNya dan Dzat itu sendiri berdiri karena adanya
cahaya cahaya yang telah membentuk Dzat menjadi
Abadi selama lamanya alias kekal.” Partisipasinya Dzat dalam cahaya telah menenggelamkan
diriNya ke dalam cahaya yang bersifat primordial, neraka
akan berkata kepadanya: “cahayamu telah mematikan
api ku”. Sebab api neraka, sebagai ciptaan, dapat
dimatikan, sedangkan Cahaya Muhammad, yang telah
ada dalam pra keabadian, tidak dapat diganggu gugat adanya. Pada tingkat yang berbeda konsep Muhammad
sebagai nur al anwar, “cahaya dari segala cahaya”
maka dapat dikaitkan bahwa dia tidak mempunyai
bayangan. Sebagaimana dijelaskan oleh Najm Razi, dia,
dari satu sudut pandang, adalah matahari,dan matahari
tidak mempunyai bayangan bukan? Adakah siapakah diantara gerangan yang tahu akan bayangannya
matahari?”. Muhammad saw dalam sebuah riwayat pernah berkata,

“Yang pertama tama diciptakan Allah adalah jiwaku;”

tetapi orang mendapati pernyataan pernyataan yang

bertentangan seperti “Yang pertama-tama diciptakan

Allah adalah Pena” (yang ternyata “identik dengan

Jiwa Muhammad”) atau“Akal.” Najm Razi dengan terampil menggabungkan ketiga hadis yang tampaknya

saling bertentangan itu dengan menafsirkan ketiganya

sebagai menyangkut Nabi: “Ketika Allah Yang

Mahakuasa menciptakan jiwa Muhammad dan

memandangnya dengan penuh kasih sayang, rasa malu

menguasai jiwanya, dan mengakibatkanny a jadi terbelah dua, separuh dari Pena Allah menjadi Jiwa Nabi,

dan separuh yang lain menjadi Akal Nabi”. Muhammad sang Nabi adalah perwujudan yang

mencakup keseluruhan “dan sempurna dari cahaya

primordial, dan bersamanya daur perwujudan itu

berakhir, sebab dia adalah Penutup para Nabi. Dalam

tradisi Arab, Ibn Al Farid (wafat 1235) ada di antara

tokoh-tokoh pertama yang mengungkapkan pemikiran pemikiran semacam itu, dalam Ta’iyyah-nya yang

besar: Dan tak satu pun dari mereka (para nabi

sebelumnya) yang tidak menyeru umatnya Menuju

Kebenaran dengan karunia Muhammad dan karena dia

adalah pengikut Muhammad. Gagasan-gagasan ini selalu diulang ulang dalam puisi sesudahnya. Dalam

tradisi Persia, Jami‘-lah yang terutama suka

menyanyikan, dalam syair pembukaannya yang panjang

dari karya karya epiknya, mengenai perkembangan

yang menakjubkan ini. Menurut kata katanya, risalah

setiap nabi yang pernah hidup tidak lain adalah bagian dari risalah Muhammad yang sangat luas: Cahayanya muncul di dahi Adam Sehingga para malaihat

menekurkan kepala mereka bersujud; Nuh, di tengah

bahaya banjir, Menemukan pertolongan darinya dalam

pelayarannya; Harum karunianya sampai kepada

Ibrahim, ‘ Dan mawarnya bermekaran dari tumpukan

kayu bakar Namruj. Yusuf mendukungnya, di istana kebaihan (Hanya) seharga seorang budak, tujuh belas

dirham. Wajahnya menyalakan api Musa, Dan bibirnya

mengajarkan kepada ‘Isa bagaikan menghiduphan

orang yang mati. Cahaya Muhammad saw yang telah diciptakan dari

dzatNya Allah swt dalam prosesiNya DzatNya yang

tercipta dari CahayaNya sendiri. Disinilah Allah swt

dikatakan bersifat qiyamuhu binafsi yaitu berdiri dengan

dirinya sendiri tanpa bantuan apapun dari yang lain,

sehingga prosesi penciptaan DzatNya begitu kekal, begitu abadi begitu agung begitu suci begitu mulia. Sungguh

DzatNya telah tercipta dari CahayaNya yang tersimpan

dalam cahaya Muhammad saw.

19 komentar:

  1. Sebaiknya anda segera konsultasi langsung dengan Allah sebelum menderita Schizophrenia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allah hidup kerana manusia

      Hapus
    2. Anda salah kalo Allah hidup karna manusia maka allah tidak ad

      Hapus
  2. Batas itu hanya untuk orang² yang masih bersyariat,dan selalu memandang rendah makrifat,islam tidak ada,adanya tauhid,meskipun kami sudah bertauhid tapi kami tidak melupakan syariat,tapi saat mencapai nafsu abdillah semua itu tidak ada.

    BalasHapus
  3. Yang Awal dan Yang Akhir.
    Tanpa permulaan dan Tanpa Akhir.

    Jika Allah memiliki "asal dan Usul"
    Maka GAGAL lah Sifat Allah Yang Maha Awal.

    Hukum sebab akibat tidak berlaku bagi Allah. Sebab, hukum itu dicipta dari Yang Maha Pencipta.


    Allah yang Berkehendak? atau Kehendak Allah yang Berkekehendak?

    Allah tidak terikat dengan apapun, Ia lah Yang Maha Berdiri sendiri.

    BalasHapus
  4. Yang Awal dan Yang Akhir.
    Tanpa permulaan dan Tanpa Akhir.

    Jika Allah memiliki "asal dan Usul"
    Maka GAGAL lah Sifat Allah Yang Maha Awal.

    Hukum sebab akibat tidak berlaku bagi Allah. Sebab, hukum itu dicipta dari Yang Maha Pencipta.


    Allah yang Berkehendak? atau Kehendak Allah yang Berkekehendak?

    Allah tidak terikat dengan apapun, Ia lah Yang Maha Berdiri sendiri.

    BalasHapus
  5. ALLAH itu cuma nama,nama kekuasaannya,barang siapa menye!bah ALLAH,maka ia syirik seutuhnya,apabila ia menyembah ka,bah,itu sama dengan berhala

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu yembah sopo nek ra meng Alloh

      Hapus
    2. Ka'bah itu arah kiblat tuhanku itu Satu yakni Allah swt sungguh Allah itu 1 dan maha esa. Allah itu tidak beristri dan beranak dan tidak pula diperanakkan. Muhammad Adalah Utusan Allah sama halnya dengan Nabi Isa As dan Para Nabi yang lainnya.

      Hapus
  6. ALLAH itu cuma nama,nama kekuasaannya,barang siapa menye!bah ALLAH,maka ia syirik seutuhnya,apabila ia menyembah ka,bah,itu sama dengan berhala

    BalasHapus
  7. Tujuan manusia dicipta ini hanya untuk beribadah kepada Alloh maha pencipta,bila manusia ingin mencari keberadaan Alloh secara fisik maka Tidak akan bisa yang menemukan,dan memang bukan untuk itu manusia dicipta ke dunia ini.Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas dan lemah untuk itu Alloh memberi petunjuk lewat Rasul-Nya.

    BalasHapus
  8. Aku Beriman Kepada Allah SWT dan Aku berlindung kepada Allah dari godaan Setan yang terkutuk..

    Cukuplah Allah SWT yang Maha Esa , Allah, Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Yang Awal dan Akhir.

    Allahu Akhbar

    BalasHapus
  9. Saran saya,,.. Jika mr. Eggy S. Sang penulis belum pernah menulis dan menjelaskan Asal Usul Terciptanya Kuman dan Bakteri , apa isi perut kuman dan bernyawahakah kuman dan bakteri..atau betnafaskah mereka..atau penulis menjelaskan bagai mana cara kuman dan bakteri bisa hidup dan mencari makan.. (menuliskan hal yang mudah dimuka bumi ini) maka,Jangan lah Pernah Menulis Tentang Asal Usul Allah SWT Sang Maha Pencipta. Yang jelas2 secara kapasitas tak mampu mr.eggy menjabarkan asal usaulnya

    BalasHapus
  10. SEPERTI NYA ANDA SALAH PERSEFSI TENTANG NAMA NYA DZAT KATA DZAT DI SINI TIDAK BISA ANDA SAMAKAN DENGAN ZAT YANG ADA DI DUNIA ALLAH ITU DZAT BUKAN ZAT YANG ANDA SEBUTAN ITU DI ATAS ADALAH SIFAT ZAT. DAZT ALLAH ITU MENGARTIKAN PENCETUS ATAU YANG MEMBUAT YANG MENYEBABKAN SESUATU YANG TIDAK ADA MENJADI ADA ITULAH YANG DI NAMAKAN DZAT ALLAH KAU PIKIR KATA DZAT DI SINI KAU SAMAKAN SAMA DENGAN ZAT DI SAINS APA DASAR TOLOL KALAU ANDA GAK TAU PASTI TETANG DZAT ALLAH LEBIH BAIK JANGAN NULIS ARTIKEL TENTANG ALLAH KARENA ARTIKEL ANDA ITU PENGHINAAN TAU TIDAK

    BalasHapus
  11. Allah itu maha baik dan maha pengampun

    BalasHapus